Rapat Koordinasi Pusdal LH Sumatera: Selamatkan Masa Depan Danau Singkarak

Solok (Wasiat24.com) – Danau Singkarak kembali menjadi sorotan. Bukan karena keindahan panoramanya yang selalu memikat wisatawan, tetapi karena kondisinya yang semakin mengkhawatirkan. Air yang mulai tercemar, sampah yang menumpuk di sempadan, hingga aktivitas pertambangan dan pembangunan yang mengancam kelestarian, membuat danau kebanggaan masyarakat Sumatera Barat ini berada di titik rawan.

Menjawab tantangan tersebut, Pusat Pengendalian Lingkungan Hidup (Pusdal LH) Sumatera bergerak cepat dengan menginisiasi Rapat Koordinasi Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Danau Singkarak. Acara ini akan digelar pada Selasa, 30 September 2025 di Emersia Hotel & Resort Batusangkar, dengan melibatkan banyak pihak, mulai dari kementerian, pemerintah daerah, akademisi, hingga masyarakat yang tinggal di sekitar danau.

Danau Strategis, Ancaman Serius

Dalam surat resmi bernomor B.406/PPLH.S/DAS.7.2/09/2025, Kepala Pusdal LH Sumatera Zamzami, S.E., M.M menegaskan bahwa Danau Singkarak adalah salah satu dari 15 danau prioritas nasional yang ditetapkan dalam Peraturan Presiden Nomor 60 Tahun 2021.

Betapa pentingnya Danau Singkarak terlihat dari berbagai fungsi vital yang diembannya: sebagai sumber air baku, pengendali banjir, kawasan pariwisata, pusat keanekaragaman hayati, hingga sumber energi melalui PLTA Singkarak yang memiliki kapasitas 172 MW. Namun sayangnya, semua itu kini tengah terancam oleh ulah tangan manusia.

Peningkatan jumlah penduduk dan aktivitas ekonomi tanpa pengendalian menyebabkan penurunan kualitas lingkungan danau. Mulai dari pembuangan limbah rumah tangga, sampah pariwisata, aktivitas pertanian yang tidak ramah lingkungan, pembangunan hotel dan penginapan, hingga galian C yang menggerus kawasan sekitar, menjadi sederet faktor utama penyebab kerusakan.

Agenda Padat, Harapan Konkret

Rapat koordinasi yang digagas Pusdal LH Sumatera bukan sekadar forum seremonial. Agenda telah disusun dengan serius untuk memastikan adanya langkah nyata penyelamatan Danau Singkarak.

Paparan utama: Implementasi Perpres No. 60 Tahun 2021 yang mengatur penyelamatan dan pengelolaan danau prioritas.

Panel Diskusi I: Kualitas lingkungan Danau Singkarak serta upaya penyelamatan ekosistem perairan, sempadan, dan daerah tangkapan air.

Panel Diskusi II: Peran nagari dalam perlindungan lingkungan dan strategi pengelolaan plasma nutfah ikan bilih, spesies endemik Danau Singkarak yang kini terancam punah.

Kesepakatan bersama: Semua pihak diharapkan menandatangani komitmen kolektif untuk menjaga kelestarian danau, bukan hanya untuk hari ini, tetapi juga untuk masa depan.

“Koordinasi dan kerjasama adalah kunci. Danau Singkarak bukan hanya milik Sumatera Barat, tetapi juga aset nasional yang harus kita jaga bersama. Kalau kita abai, kerugian yang ditanggung bukan hanya oleh masyarakat sekitar, tetapi juga oleh bangsa,” ujar Zamzami dalam surat undangan yang diterima redaksi.

Ia menambahkan, forum ini menjadi ruang penting untuk menyatukan langkah. “Tidak ada pihak yang bisa bekerja sendiri. Semua harus terlibat, mulai dari pemerintah, akademisi, swasta, hingga masyarakat yang tinggal di tepian danau. Hanya dengan cara itu kita bisa menyelamatkan Singkarak,” tegasnya.

Harapan untuk Generasi Mendatang

Selain membahas permasalahan teknis, rapat koordinasi ini juga menumbuhkan harapan besar: agar Danau Singkarak tetap lestari dan memberi manfaat bagi generasi mendatang.

Masyarakat berharap rapat ini tidak berhenti pada sebatas diskusi. Harus ada tindak lanjut berupa program nyata: pengelolaan sampah terpadu, penghentian aktivitas tambang di kawasan rawan, rehabilitasi lahan kritis di daerah tangkapan air, serta pengawasan ketat terhadap kegiatan pariwisata dan perhotelan.

Dosen perikanan dari Universitas Bung Hatta, Prof. Dr. Ir. Hafrijal Syandri, MS, yang dijadwalkan menjadi salah satu narasumber, menilai bahwa penyelamatan ikan bilih — spesies khas Singkarak — juga harus mendapat perhatian. “Ikan bilih bukan hanya bernilai ekonomi, tetapi juga identitas ekologi Danau Singkarak. Kalau kita biarkan populasinya punah, maka hilanglah salah satu kekhasan Sumatera Barat,” ungkapnya dalam kesempatan terpisah.

Menjaga Danau, Menjaga Kehidupan

Harapan besar kini tertumpu pada hasil rapat koordinasi yang akan segera digelar. Semua pihak menyadari bahwa menjaga Danau Singkarak sama artinya dengan menjaga kehidupan, budaya, dan perekonomian masyarakat di sekitarnya.

Danau ini adalah saksi sejarah, tempat wisata, sekaligus penopang ekonomi ribuan keluarga. Dengan adanya kesepakatan bersama nantinya, publik berharap akan lahir kebijakan yang tegas sekaligus solusi nyata.(zon)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *