
Kabupaten Solok (Wasiat24.com) – GAUNG aung program Solok Bersih yang digembar-gemborkan pada 100 hari pertama kepemimpinan Bupati dan Wakil Bupati Solok kini mulai redup. Aroma semangat gotong royong yang sempat merebak di awal pemerintahan perlahan memudar, meninggalkan jejak sampah plastik yang kembali bertebaran di berbagai sudut wilayah.
Awal yang Semarak, Akhir yang Sunyi
Pada awal masa jabatan, seluruh Organisasi Perangkat Daerah (OPD) tampak bersemangat menindaklanjuti instruksi kepala daerah. Setiap kepala dinas turun langsung memimpin aksi bersih-bersih, bahkan Wakil Bupati Solok H. Candra, S.Hi. kala itu turut terjun ke lapangan, memotivasi aparatur untuk menjaga kebersihan dan keindahan lingkungan kantor.
“Setiap OPD harus menjadi contoh. Jaga kebersihan, keindahan, dan keasrian lingkungan kerja. Itu cermin komitmen kita terhadap pelayanan publik,” tegas H. Candra dalam salah satu aksi gotong royong massal waktu itu. Namun kini, belum genap beberapa bulan berlalu, semangat itu tampak meredup. Instruksi pimpinan daerah seolah kehilangan daya dorong, dan kegiatan kebersihan yang dulu rutin dilakukan kini jarang terlihat. Sejumlah titik di kawasan perkantoran bahkan kembali dipenuhi sampah plastik dan rerumputan liar yang tak terurus.
ASN Hanya Bergerak Saat Disorot
Fenomena ini menimbulkan kesan bahwa semangat ASN dan PPPK di lingkungan Pemkab Solok hanya bersifat seremonial. Mereka bekerja sekadar memenuhi daftar hadir, bukan sebagai bentuk pengabdian tulus terhadap daerah dan masyarakat. Kondisi tersebut memperkuat persepsi publik bahwa sebagian aparatur hanya aktif ketika ada sorotan media atau kegiatan seremonial pemerintah.
MOI Soroti Lemahnya Konsistensi Pemkab
Ketua DPC Media Online Indonesia (MOI) Kabupaten Solok, Ega Yudhistira, menilai meredupnya semangat Solok Bersih menunjukkan lemahnya konsistensi birokrasi dalam menjaga keberlanjutan program prioritas daerah. “Gerakan Solok Bersih semestinya tidak berhenti pada seremoni 100 hari. Ini bukan sekadar soal sampah, tetapi cermin budaya kerja aparatur dan tanggung jawab moral terhadap masyarakat. Kalau ASN hanya bergerak ketika ada instruksi atau liputan media, berarti ada yang salah dalam mental pelayanan publik kita,” ujar Ega Yudhistira, Minggu (9/11/2025).
Peran Dinas Lingkungan Hidup Harus Jadi Motor Utama
Ega menegaskan, Pemkab Solok melalui OPD teknis, khususnya Dinas Kebersihan dan Lingkungan Hidup, seharusnya membangun sistem pengelolaan kebersihan yang berkelanjutan dan berbasis partisipasi masyarakat.
Menurutnya, keberlanjutan gerakan kebersihan tidak cukup hanya mengandalkan kegiatan gotong royong sesaat, tetapi harus terintegrasi dalam kebijakan, penganggaran, dan pengawasan rutin.
“Dinas Kebersihan dan Lingkungan Hidup harus menjadi motor utama yang memastikan program ini hidup terus. Ada jadwal, ada pengawasan, dan ada evaluasi. Jangan biarkan sampah kembali jadi pemandangan biasa di kantor pemerintahan,” tambah Ega.
Secara tegas, Ega juga mengingatkan bahwa menjaga kebersihan bukan hanya tanggung jawab administratif, tetapi juga amanah moral dan keimanan.
“At-thahuru syathrul iman kebersihan adalah sebagian dari iman (HR. Muslim No. 223). Bila nilai dasar ini diabaikan, maka kita bukan hanya lalai terhadap lingkungan, tetapi juga terhadap ajaran yang kita yakini,” tegasnya.
Pantauan Redaksi: Sampah Plastik Masih Menumpuk di Banyak Titik
Kondisi ini menunjukkan bahwa teori dan konsep pengelolaan sampah yang pernah dinarasikan oleh Dinas Kebersihan dan Lingkungan Hidup Kabupaten Solok belum sepenuhnya terimplementasi di lapangan. Minimnya pengawasan, lemahnya kesadaran ASN, serta kurangnya sinergi antar-OPD membuat program Solok Bersih kehilangan ruh gerakannya.
Komplek Islamic Center, MPP, DISPERSIP, TIC, & BPBD Dikepung Sampah
Lebih miris lagi, kondisi serupa juga tampak di kawasan Kompleks Islamic Center Koto Baru, yang berada tepat di jantung area perkantoran pemerintah. Pantauan redaksi memperlihatkan, kawasan yang seharusnya menjadi ikon spiritual dan etalase kebersihan itu justru terlihat memprihatinkan rumput liar tumbuh tak terurus disamping Gedung Megah TIC ( Touris Information Centre ), sampah plastik berserakan ditaman sekeliling gedung Megah Dinas Perpustakaan dan Kearsipan, bahkan tong sampah di sekitar gedung Mall Pelayanan Publik (MPP) sudah rusak parah dan tidak layak pakai.
Situasi ini mempertegas bahwa pengawasan terhadap kebersihan lingkungan kantor pemerintahan tidak berjalan optimal. Komplek Perkantoran yang seharusnya menjadi simbol pelayanan modern, kini justru dikelilingi oleh pemandangan yang kontras dengan citra “Solok Bersih” yang pernah dijanjikan.
Program Tanpa Komitmen Hanya Akan Jadi Slogan
Kondisi ini menjadi cermin bahwa tanpa komitmen berkelanjutan dan sistem yang jelas, program sebaik apa pun akan kehilangan makna. Solok Bersih yang dulu dielu-elukan kini seolah tinggal slogan sementara sampah kembali “bergembira” di halaman-halaman kantor pemerintahan.(zon)









