Batin Suku Akit Hatas Bersama Warga Perjuangkan Jalan Hutan Samak, Harapkan Jembatan Selat Morong Terwujud


RUPAT UTARA (Wasiat24.com) — Upaya membuka akses transportasi masyarakat Dusun Hutan Samak, Desa Titi Akar, Kecamatan Rupat Utara, Kabupaten Bengkalis, terus didorong. Salah satu langkah yang kini menjadi perhatian adalah penyelesaian sekitar 200 meter jalur tanah yang direncanakan terhubung langsung ke tepi Sungai Selat Morong, lokasi yang diusulkan sebagai titik nol pembangunan Jembatan Selat Morong.

Jalur tersebut dilaporkan telah dibuka dan diratakan dengan lebar sekitar 20 meter serta panjang hampir dua kilometer. Dengan demikian, masih diperlukan penyelesaian sekitar 200 meter untuk mencapai tepian sungai.

Melihat pentingnya akses tersebut bagi mobilitas masyarakat dan rencana konektivitas antarwilayah, Ketua Umum Batin Suku Akit Hatas Kabupaten Bengkalis, Batin Sukarto bin Batin Anyang, secara resmi menyampaikan permohonan dukungan kepada pimpinan PT MMJ agar dapat membantu penyelesaian jalur tersebut melalui bantuan alat berat jenis ekskavator atau beko.

Permohonan itu disampaikan dengan harapan adanya sinergi antara lembaga adat, pemerintah desa, masyarakat, dan pihak perusahaan untuk mempercepat pembukaan akses yang dinilai memiliki manfaat bagi kehidupan warga.

Batin Sukarto mengatakan, upaya penyelesaian jalur tersebut mendapat dukungan dari Penjabat (Pj.) Kepala Desa Titi Akar. Masyarakat setempat juga disebut siap bergotong royong menyumbangkan tenaga guna menuntaskan pekerjaan yang masih tersisa.

“Kami tidak berdiri sendiri. Pj. Kepala Desa mendukung, masyarakat siap bekerja sama, dan harapan kami satu, yakni menyelesaikan 200 meter ini demi kehidupan yang lebih baik. Bersatu kita kuat, bersama kita hebat. Itulah semangat yang menggerakkan langkah kami hari ini,” ujar Batin Sukarto, Selasa (27/10/2026).

Harapan masyarakat dapat Penyelesaian sisa jalan tersebut dapat manfaat langsung bagi masyarakat Dusun Hutan Samak, khususnya dalam menunjang mobilitas sehari-hari menuju pusat Desa Titi Akar.

Apabila jalur itu dapat diselesaikan dan memenuhi persyaratan keselamatan untuk digunakan, masyarakat diharapkan memperoleh akses perjalanan yang lebih mudah, baik untuk kegiatan ekonomi, pendidikan, maupun kebutuhan sosial lainnya.

Dari sisi perekonomian, keberadaan akses jalan yang lebih memadai berpotensi membantu petani dan pekebun mengangkut hasil produksi, seperti karet, kelapa sawit, serta komoditas lainnya. Akses yang lebih baik juga diharapkan dapat menekan hambatan distribusi dan meningkatkan efisiensi biaya angkut.

Selain itu, akses transportasi yang memadai menjadi kebutuhan penting bagi anak-anak yang bersekolah serta masyarakat yang membutuhkan pelayanan kesehatan. Kondisi tersebut dinilai semakin mendesak apabila selama ini perjalanan warga terkendala keterbatasan infrastruktur. Manfaat tersebut akan bergantung pada kondisi jalan, kelayakan penggunaannya, serta pemeliharaan akses secara berkelanjutan menuju Selat Morong.

Penyelesaian jalur sepanjang sekitar 200 meter itu tidak hanya dipandang sebagai upaya membuka jalan bagi masyarakat setempat. Jalur tersebut juga diproyeksikan menjadi bagian dari akses menuju rencana pembangunan Jembatan Selat Morong yang telah diusulkan kepada Pemerintah Kabupaten Bengkalis sejak beberapa tahun lalu.

Menurut Batin Sukarto, tepian Sungai Selat Morong di ujung jalur tersebut direncanakan menjadi titik nol atau lokasi awal akses menuju jembatan yang diharapkan dapat menghubungkan wilayah Desa Titi Akar dengan Desa Darul Aman, Kecamatan Rupat, Kabupaten Bengkalis.

“Tepi sungai di ujung jalan inilah yang kami tetapkan sebagai titik koordinat lokasi Jembatan Selat Morong, yang telah diusulkan kepada Pemerintah Kabupaten Bengkalis sejak bertahun-tahun silam. Jika jalannya terealisasi sekarang, kelak ketika jembatan itu dibangun, akses utamanya diharapkan sudah siap terhubung,” ungkapnya.

Ia menegaskan, penyelesaian jalur tersebut merupakan bagian dari harapan masyarakat untuk membuka konektivitas antarwilayah sekaligus memperluas peluang ekonomi di kawasan Rupat Utara. Namun, realisasi pembangunan jembatan tetap membutuhkan tindak lanjut dari pemerintah dan instansi terkait.

Batin Suku Akit Hatas berharap PT MMJ dapat mempertimbangkan permohonan bantuan alat berat untuk mempercepat penyelesaian sisa jalur tersebut. Dukungan itu diharapkan menjadi bentuk kontribusi nyata dunia usaha dalam membantu kebutuhan infrastruktur masyarakat di sekitar wilayah operasionalnya, sesuai kebijakan dan ketentuan perusahaan.

Menurutnya, kesiapan masyarakat untuk bergotong royong menjadi modal penting dalam merealisasikan rencana tersebut. Dengan dukungan alat berat, pekerjaan yang membutuhkan perataan dan penataan tanah diharapkan dapat dilakukan secara lebih efektif.

“Kami berharap ada dukungan dari PT MMJ untuk membantu penyelesaian sisa jalur ini. Tenaga masyarakat sudah siap, pemerintah desa memberikan dukungan, dan kami ingin upaya ini menjadi langkah bersama demi kepentingan masyarakat luas,” katanya.

Ia juga berharap pemerintah daerah dapat terus memberikan perhatian terhadap usulan pembangunan Jembatan Selat Morong, mengingat infrastruktur penghubung tersebut dinilai berpotensi meningkatkan aksesibilitas dan mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat.

Bagi masyarakat Dusun Hutan Samak, penyelesaian 200 meter jalur tanah itu menjadi langkah awal yang diharapkan membuka akses lebih baik menuju pusat desa sekaligus mempersiapkan konektivitas untuk masa depan.

Semangat “Bersatu Kita Kuat, Bersama Kita Hebat” pun menjadi pesan yang diusung dalam upaya tersebut. Masyarakat berharap kolaborasi antara lembaga adat, pemerintah desa, pihak perusahaan, dan pemerintah daerah dapat berlanjut hingga rencana akses jalan dan Jembatan Selat Morong memperoleh kejelasan serta terealisasi.

Dua ratus meter yang tersisa diharapkan bukan sekadar menjadi ujung jalan tanah, melainkan awal terbukanya akses, peluang ekonomi, dan harapan baru bagi masyarakat di dua wilayah.(zakaria)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *