Dari Dapur Sederhana Menuju Harapan: Kisah Perjuangan Emak-Emak Wirani Rejosari Dumai Bangkit Bersama Pertamina

Foto : Di tangan para perempuan ini, kegiatan ekonomi Wirani Rejosari dan kepedulian sosial berjalan beriringan.

Oleh Ridwan Safri

DIBALIK kesibukan mengurus keluarga dan mengabdi kepada masyarakat, ada sekelompok perempuan di sudut Kota Dumai yang menyimpan mimpi sederhana: ingin lebih berdaya, ingin menghasilkan sesuatu yang bermanfaat, dan ingin melihat pengabdian mereka membawa kehidupan yang lebih baik bagi keluarga serta masyarakat di sekitarnya.

Mereka bukan perempuan yang datang dengan modal besar. Mereka juga bukan pengusaha yang sejak awal memiliki fasilitas produksi lengkap, jaringan pemasaran luas, atau teknologi pertanian modern. Sebagian besar dari mereka adalah kader posyandu, perempuan yang selama ini akrab dengan kegiatan pelayanan kesehatan masyarakat, mendampingi balita, serta memperhatikan kebutuhan para ibu dan lansia.

Mereka adalah Wirani Rejosari, singkatan dari Wirausaha Wanita Rejosari, kelompok yang terdiri dari 10 perempuan di Jalan Sriwedari Ujung, Kelurahan Tanjung Palas, Kecamatan Dumai Timur, Kota Dumai, Provinsi Riau.

Dari langkah-langkah kecil yang mereka bangun bersama, lahir sebuah perjalanan tentang keberanian untuk mencoba, kesabaran menghadapi keterbatasan, dan harapan yang perlahan tumbuh menjadi kenyataan.

Kini, di bawah pembinaan PT Pertamina Patra Niaga Refinery Unit Dumai, Wirani Rejosari tidak hanya mengembangkan tanaman hidroponik dan usaha olahan pangan. Kelompok ini juga berupaya memperluas manfaat bagi masyarakat rentan, sekaligus membuka jalan menuju kemandirian ekonomi perempuan.
Namun, keberhasilan yang terlihat hari ini bukanlah sesuatu yang datang dalam semalam.

Ketika Pengabdian Berhadapan dengan Keterbatasan

Sebelum berkembang seperti sekarang, perjalanan para perempuan Wirani Rejosari berawal dari semangat pengabdian. Mereka telah terbiasa memberikan waktu dan tenaga untuk kegiatan posyandu. Bagi mereka, membantu masyarakat bukan sekadar tugas, melainkan panggilan hati.

Di tengah pengabdian itu, tumbuh pula keinginan untuk melakukan sesuatu yang lebih besar.
Mereka ingin agar kemampuan yang dimiliki tidak berhenti pada kegiatan pelayanan masyarakat. Mereka ingin belajar mengolah potensi lokal menjadi produk bernilai, membangun usaha bersama, dan memperoleh hasil yang dapat mendukung kesejahteraan para kader.

Akan tetapi, niat baik tidak selalu berjalan mulus.
Membangun usaha membutuhkan lebih dari sekadar keberanian. Ada pengetahuan yang harus dipelajari, proses produksi yang harus ditata, peralatan yang perlu disiapkan, serta perhitungan harga dan pemasaran yang harus dipikirkan dengan matang.

Produk yang enak dan bergizi belum tentu langsung dikenal masyarakat. Hasil pertanian yang tumbuh subur juga belum tentu mudah dikembangkan apabila pengelolaannya masih terbatas.

Bagi kelompok perempuan yang sedang belajar merintis usaha, semua itu merupakan bagian dari perjuangan. Di sinilah arti kebersamaan menjadi penting. Sepuluh perempuan itu tidak berjalan sendiri-sendiri. Mereka berusaha menyatukan tenaga, gagasan, dan pengalaman untuk mengembangkan kegiatan yang dapat memberi manfaat lebih luas.

Mereka mungkin tidak memiliki segalanya pada awal perjalanan. Namun, mereka memiliki sesuatu yang tidak kalah penting: kemauan untuk belajar dan keyakinan bahwa usaha kecil yang dikerjakan bersama dapat membuka peluang perubahan.

Pertamina Hadir, Membuka Jalan Menuju Kemandirian

Perjalanan Wirani Rejosari kemudian berkembang melalui pembinaan PT Pertamina Patra Niaga Refinery Unit Dumai.

Pendampingan tersebut menjadi bagian penting dalam upaya mengembangkan potensi kelompok. Bukan hanya mendorong kegiatan yang sudah berjalan, tetapi juga membantu membuka peluang agar ide-ide para perempuan dapat tumbuh menjadi kegiatan produktif yang berkelanjutan.

Bagi Wirani Rejosari, pembinaan bukan sekadar tentang mendapatkan fasilitas. Lebih dari itu, pembinaan menjadi kesempatan untuk meningkatkan kemampuan, mengembangkan inovasi, memperbaiki pengelolaan usaha, dan memikirkan masa depan kelompok.

Dari semangat itulah dua kegiatan utama dikembangkan, yakni budidaya sayuran hidroponik dan produksi olahan pangan bergizi melalui usaha yang mereka namakan JELITA.
Perubahan tersebut memperlihatkan bahwa perempuan yang selama ini mengabdikan diri untuk masyarakat juga memiliki potensi besar sebagai penggerak ekonomi keluarga dan lingkungan.

Mereka bukan hanya penerima manfaat. Mereka turut menjadi pelaku perubahan.

Hidroponik Bertenaga Matahari, Tumbuh dari Harapan

Foto : Ketua Wirani Rejosari, Jumi Sulistiani dan anggota bersama pendamping CSR Pertamina. Di bawah pembinaan PT Pertamina Patra Niaga Refinery Unit Dumai, Wirani Rejosari mengembangkan tanaman hidroponik.

Di salah satu sudut kegiatan Wirani Rejosari, tanaman selada dan pakcoy tumbuh melalui sistem hidroponik. Tanpa bergantung pada lahan pertanian konvensional, sayuran tersebut dibudidayakan dengan memanfaatkan teknologi yang memungkinkan tanaman tumbuh dalam lingkungan yang dikelola.

Kini, fasilitas hidroponik kelompok ini memiliki 708 lubang tanam dan didukung Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS). Cahaya matahari yang setiap hari menyinari Kota Dumai tidak hanya menjadi bagian dari alam, tetapi juga dimanfaatkan sebagai sumber energi untuk mendukung kegiatan produksi mereka. Dengan sistem panel surya tersebut, kebutuhan listrik untuk operasional hidroponik dapat dipenuhi tanpa bergantung pada pasokan listrik konvensional.

Di balik 708 lubang tanam itu, tersimpan lebih dari sekadar kegiatan bercocok tanam. Ada ketekunan perempuan yang belajar mengelola teknologi, merawat tanaman, dan menjaga agar hasil yang diperoleh dapat memberi manfaat.
Hasil panen selada dan pakcoy dimanfaatkan untuk mendukung pemenuhan pangan bergizi bagi masyarakat rentan.

Artinya, sayuran yang mereka tanam bukan semata-mata komoditas usaha. Hasilnya juga menjadi bagian dari upaya membantu masyarakat yang membutuhkan dukungan pemenuhan gizi.

Di tangan para perempuan ini, kegiatan ekonomi dan kepedulian sosial berjalan beriringan.
Mereka menanam, merawat, memanen, lalu berupaya memastikan hasilnya dapat membawa kebaikan bagi orang lain.

JELITA, Ketika Potensi Lokal Menjadi Harapan Baru

Perjuangan Wirani Rejosari tidak berhenti di kebun hidroponik. Sejak 2025, kelompok ini juga mengembangkan dapur produksi untuk mengolah bahan pangan menjadi berbagai produk yang memiliki nilai tambah.

Usaha tersebut diberi nama JELITA, singkatan dari Jajanan Enak Lestari Inovatif Tinggi Asupan.
Namanya terdengar sederhana, tetapi di balik setiap produk terdapat semangat untuk membuktikan bahwa bahan pangan lokal dapat diolah menjadi makanan yang menarik, lezat, dan memiliki nilai gizi.

Sorgum, ikan patin, serta sayuran seperti selada dan pakcoy menjadi bahan utama yang dikembangkan menjadi berbagai olahan. Dari sorgum, mereka membuat biskuit, brownies, dan keripik. Dari ikan patin, lahir produk bakso dan nugget yang praktis untuk dikonsumsi. Sementara itu, selada dan pakcoy dipadukan dengan buah-buahan menjadi minuman segar, seperti jus selada mangga dan jus pakcoy nanas dengan air kelapa.

Bagi mereka, setiap bahan bukan sekadar sesuatu yang bisa dimasak. Setiap bahan merupakan peluang untuk menciptakan produk yang bermanfaat sekaligus membuka kesempatan usaha.

Biskuit sorgum, misalnya, dikembangkan untuk menjadi bagian dari dukungan pangan bergizi bagi balita dengan masalah gizi dan ibu hamil yang mengalami kekurangan energi kronis.

Produk bakso dan nugget patin juga dimanfaatkan dalam kegiatan pemberian makanan tambahan sesuai kebutuhan program pendampingan gizi masyarakat rentan.
Dapur produksi itu menjadi ruang tempat gagasan bertemu dengan kerja keras.

Di sana, para perempuan belajar bahwa usaha tidak cukup hanya menghasilkan makanan yang enak. Produk juga harus memenuhi ketentuan yang diperlukan, memiliki izin yang sesuai, menjaga mutu, serta diperhitungkan harga dan peluang pemasarannya.

Kelompok ini telah mengembangkan dapur produksi dengan kelengkapan perizinan yang diperlukan. Mereka pun terus berupaya memperbaiki kualitas dan mengembangkan inovasi produk.

Foto : Pendamping CSR Pertamina untuk kelompok Wirani Rejosari, Audina Rehan saat meninjau kegiatan produksi olahan pangan bergizi melalui usaha yang mereka namakan JELITA.

Pendamping CSR Pertamina untuk kelompok Wirani Rejosari, Audina Rehan, mengatakan bahwa ide kreatif dalam mengembangkan usaha tersebut berasal dari inisiatif dan inovasi para anggota kelompok sendiri.

“Kelompok Wirani Rejosari itu mengembangkan resep biskuit dari sorgum dan ibu-ibu ini berinovasi juga. Ibu-ibu ini kemarin juga baru mengikuti pelatihan yang di dalamnya juga menggunakan bahan-bahan sorgum,” ujar Audina.

Pernyataan itu memperlihatkan bahwa para perempuan tersebut tidak sekadar menjalankan usaha berdasarkan arahan. Mereka turut mencari ide, mencoba resep, belajar dari pelatihan, dan mengembangkan produk berdasarkan kemampuan serta potensi yang dimiliki.

Mereka sedang membangun sesuatu yang lebih besar daripada sekadar dapur produksi: kepercayaan terhadap kemampuan diri sendiri.

Ketika Usaha Belum Luas, Perjuangan Belum Selesai

Meski telah menghasilkan beragam produk, perjalanan JELITA masih menghadapi tantangan. Pemasaran produk masih berada dalam lingkup yang terbatas. Untuk menjangkau pasar yang lebih luas, termasuk pasar oleh-oleh, kelompok perlu menghitung kembali harga jual agar sesuai dengan biaya produksi, kemasan, dan kebutuhan pasar.

Tantangan ini menjadi pengingat bahwa keberhasilan usaha bukan hanya ditentukan oleh kemampuan membuat produk yang berkualitas. Produk juga harus mampu bersaing, dikenal konsumen, dan memberikan hasil yang layak bagi pembuatnya.

Audina Rehan menjelaskan bahwa Pertamina Patra Niaga ke depan akan membantu kelompok dalam pengembangan pemasaran.
Menurutnya, kelompok masih perlu melakukan penyesuaian perhitungan harga sebelum memasuki pasar oleh-oleh.

Di sinilah perjalanan Wirani Rejosari masih terus berlangsung.
Ada harapan agar produk yang selama ini dibuat dengan ketekunan tidak hanya dikenal di lingkungan sekitar, tetapi juga dapat menjangkau konsumen yang lebih luas.
Ada pula harapan agar pendapatan dari usaha tersebut semakin baik sehingga para anggota dapat merasakan manfaat ekonomi yang nyata dari kerja bersama mereka.

Sebab, bagi perempuan yang selama ini mengabdikan waktu untuk kepentingan masyarakat, keberhasilan bukan sekadar melihat produknya terjual. Keberhasilan juga berarti ketika usaha itu mampu memberikan penghargaan yang layak terhadap tenaga, waktu, dan kemampuan mereka.

Bukan Hanya Berjualan, Mereka Juga Merawat Kehidupan

Bagi Ketua Wirani Rejosari, Jumi Sulistiani, yang akrab disapa Yani, usaha yang dikembangkan kelompoknya memiliki tujuan yang lebih luas daripada memperoleh pendapatan.

Hasil usaha UMKM diharapkan dapat mendukung peningkatan kesejahteraan para kader posyandu agar mereka semakin mandiri dan mampu terus memberikan manfaat bagi masyarakat.

“Hasil UMKM itu dialokasikan untuk meningkatkan kesejahteraan kader posyandu. Jadi kita ingin menjadi kader posyandu yang mandiri, berdaya dan bisa berbagi,” ujar Yani, Kamis (8/10/2026).

Kalimat itu menjadi gambaran sederhana mengenai alasan mereka bertahan dan terus berusaha. Mereka ingin agar pengabdian tidak selalu berjalan beriringan dengan keterbatasan. Mereka ingin memiliki kemampuan ekonomi yang lebih baik, tetapi tanpa kehilangan semangat untuk membantu sesama.
Karena itu, Wirani Rejosari juga menjalankan kegiatan sosial yang menyentuh langsung kebutuhan masyarakat.

Melalui kegiatan posyandu, mereka memberikan makanan tambahan bagi balita dan lansia serta mendukung pelayanan kesehatan masyarakat. Mereka juga mengadakan pemeriksaan kesehatan gratis, termasuk pemeriksaan kolesterol, asam urat, dan gula darah.
Yani menceritakan bahwa kelompoknya baru-baru ini melaksanakan pemeriksaan kolesterol gratis di posyandu dengan melayani sekitar 40 lansia.

“Kebetulan kita baru saja melaksanakan cek kolesterol, cek gratis di posyandu. Alhamdulillah ada 40 lansia yang kita layani. Nah selanjutnya mungkin secara rutin akan dilaksanakan di kelurahan. Kemudian untuk UMKM, Wirani Rejosari ada dapur produksi yang terbentuk sejak dari 2025,” tuturnya.

Bayangkan, perempuan yang berusaha membangun dapur produksi dan mengembangkan tanaman hidroponik itu juga meluangkan perhatian untuk para lansia, balita, serta ibu hamil yang membutuhkan dukungan.

Bagi mereka, manfaat usaha tidak berhenti ketika produk terjual dan uang masuk ke kas kelompok. Manfaat itu juga diharapkan hadir ketika seorang lansia mendapatkan pemeriksaan kesehatan, ketika kebutuhan gizi masyarakat rentan terbantu, dan ketika kader posyandu memiliki kesempatan untuk meningkatkan kesejahteraannya.

Di situlah nilai yang sesungguhnya ingin mereka tumbuhkan: usaha yang menghidupi pelakunya sekaligus menghidupkan kepedulian kepada sesama.

Dari Lingkungan Kelurahan, Menyimpan Mimpi Lebih Besar

Foto : Lurah Tanjung Palas, Herfina Herman, S.Sos. Ia menilai kelompok yang berawal dari para kader posyandu tersebut memiliki peluang untuk berkembang lebih jauh berkat kreativitas anggotanya dan sinergi dengan PT Pertamina Patra Niaga Unit Dumai.

Perkembangan Wirani Rejosari mendapat apresiasi dari Lurah Tanjung Palas, Herfina Herman, S.Sos.

Ia menilai kelompok yang berawal dari para kader posyandu tersebut memiliki peluang untuk berkembang lebih jauh berkat kreativitas anggotanya dan sinergi dengan PT Pertamina Patra Niaga Unit Dumai. “Ini berkat sinergi dari PT Pertamina Patra Niaga Unit Dumai,” kata Herfina.

Apresiasi itu menjadi penyemangat bagi kelompok untuk melanjutkan perjalanan. Dari lingkungan kelurahan, mereka berharap dapat terus meningkatkan kemampuan, memperluas pemasaran, serta mengembangkan usaha yang semakin kuat.

Tentu, perjalanan menuju kemandirian tidak selalu mudah. Akan ada tantangan baru, mulai dari menjaga konsistensi produksi hingga memperluas jaringan pemasaran. Namun, pengalaman yang telah dilalui menjadi bekal berharga bagi para anggota untuk melangkah lebih jauh.

Pembinaan dari Pertamina Patra Niaga menjadi salah satu bagian penting dalam perjalanan tersebut, sementara kreativitas, ketekunan, dan kemauan anggota untuk terus belajar menjadi kekuatan dari dalam kelompok.
Keduanya bertemu dalam satu tujuan: menjadikan potensi perempuan dan sumber daya lokal sebagai jalan menuju kesejahteraan yang lebih baik.

Sebuah Perjalanan yang Belum Usai

Kini, Wirani Rejosari bukan lagi sekadar nama kelompok perempuan di Jalan Sriwedari Ujung, Dumai.

Di dalamnya ada sepuluh perempuan yang terus belajar membangun usaha. Ada tanaman selada dan pakcoy yang tumbuh dengan dukungan energi matahari. Ada dapur produksi yang mengolah sorgum, ikan patin, dan sayuran menjadi beragam makanan. Ada pula kegiatan sosial yang berupaya menjangkau masyarakat yang membutuhkan.

Namun, mungkin pencapaian terpenting mereka tidak hanya dapat dihitung melalui jumlah lubang tanam, banyaknya produk, atau hasil penjualan. Pencapaian itu juga hidup dalam keyakinan bahwa perempuan yang selama ini bekerja di balik kegiatan pelayanan masyarakat memiliki kemampuan untuk berkembang, berinovasi, dan memperoleh kemandirian ekonomi.

Mereka sedang membuktikan bahwa pengabdian dan kesejahteraan bukanlah dua hal yang harus dipertentangkan. Seorang kader posyandu juga dapat menjadi pelaku usaha. Seorang ibu juga dapat menjadi penggerak inovasi pangan. Dan sebuah kelompok kecil dapat menjadi sumber manfaat bagi lingkungan sekitarnya.

Perjalanan Wirani Rejosari bersama pembinaan PT Pertamina Patra Niaga Refinery Unit Dumai masih terus berlanjut. Jalan menuju pasar yang lebih luas dan usaha yang semakin mandiri masih harus ditempuh.

Tetapi dari setiap tanaman yang dirawat, setiap produk yang dihasilkan, dan setiap masyarakat yang dilayani, ada harapan yang terus dijaga.
Harapan agar kerja keras mereka membawa kehidupan yang lebih baik. Harapan agar para kader posyandu dapat semakin sejahtera tanpa kehilangan kepedulian. Dan harapan agar manfaat yang mereka bangun hari ini dapat dirasakan lebih luas oleh masyarakat.

Sebab, bagi Wirani Rejosari, keberhasilan yang paling berarti bukan hanya ketika usaha mereka tumbuh besar, melainkan ketika tangan-tangan yang selama ini sibuk menolong orang lain akhirnya juga memiliki kesempatan untuk memperbaiki kehidupan mereka sendiri.

Dari perempuan yang tumbuh bersama, lahir kekuatan untuk berdaya. Dari usaha yang dimulai dengan keterbatasan, tumbuh harapan untuk masa depan. Dan dari kepedulian yang terus dirawat, Wirani Rejosari ingin membuktikan bahwa ketika perempuan diberi kesempatan untuk berkembang, manfaatnya dapat menjalar jauh melampaui dirinya sendiri.

Pertamina Hadir Membuka Jalan Perubahan

Harapan untuk berkembang mendapat dorongan melalui program pembinaan Community Involvement & Development (CID) PT Pertamina Patra Niaga Refinery Unit Dumai.

Melalui program tersebut, Pertamina Patra Niaga Kilang Dumai berupaya memperkuat kapasitas masyarakat di sekitar wilayah operasional perusahaan, termasuk kelompok perempuan yang sedang merintis usaha agar mampu tumbuh menjadi pelaku UMKM yang mandiri.

Bagi Wirani Rejosari, pendampingan bukan hanya tentang memperoleh pelatihan. Lebih dari itu, kesempatan tersebut menjadi ruang untuk menambah pengetahuan, menggali potensi yang sebelumnya belum terpikirkan, dan membangun keyakinan bahwa produk sederhana pun dapat dikembangkan menjadi usaha yang memiliki nilai jual.

Salah satu dukungan yang diberikan adalah pelatihan Cake and Cookies berbahan dasar tepung sorgum melalui program Sejahtera Ekonomi Rakyat melalui Makanan Bergizi Inovatif (SERAMBI).

Sebagai bentuk upaya penguatan kapasitas kelompok sekaligus meningkatkan peluang jejaring usaha, Pertamina Patra Niaga Kilang Dumai memberikan Pelatihan Cake and Cookies Berbahan Dasar Tepung Sorgum Program Sejahtera Ekonomi Rakyat melalui Makanan Bergizi Inovatif (SERAMBI).

Berkolaborasi dengan Dinas Ketenagakerjaan Kota Dumai, pelatihan yang dilaksanakan pada 3–4 Oktober 2026 menjadi kesempatan bagi anggota kelompok untuk mempelajari inovasi pengolahan sorgum menjadi aneka kue dan camilan.

Bahan yang selama ini telah mereka olah kini kembali membuka peluang baru. Mereka tidak hanya belajar mempertahankan produk yang sudah ada, tetapi juga didorong untuk menemukan kreasi yang lebih beragam, sehat, dan berpotensi memiliki nilai jual lebih tinggi.

Bagi usaha kecil yang sedang bertumbuh, kesempatan seperti ini memiliki arti penting. Sebab, di balik setiap keterampilan baru, selalu ada peluang untuk memperbaiki kualitas produk, memperluas pilihan konsumen, dan membuka jalan menuju pasar yang lebih luas.

Dari Pelatihan, Tumbuh Keberanian untuk Berinovasi

Bendahara Kelompok Wirani Rejosari, Reski Agustia Retnowati, mengakui bahwa pelatihan yang diberikan Pertamina Patra Niaga Kilang Dumai membawa manfaat bagi kelompoknya, terutama dalam membuka wawasan mengenai pengembangan produk berbahan dasar sorgum.
Selama ini, mereka telah menghasilkan berbagai jenis cookies dan brownies.

Namun, keinginan untuk terus berkembang membuat mereka menyadari bahwa masih banyak kemungkinan yang dapat digali dari bahan pangan tersebut.

“Selama ini kami sudah membuat beberapa produk, seperti cookies sorgum original, cokelat, matcha, red velvet, kemudian brownies bakar dan yang kering. Dari situ kami ingin mengembangkan lagi, apa saja yang bisa kami buat dari olahan sorgum itu sendiri. Dengan adanya pelatihan ini, kami bisa lebih mengembangkan dan membuat produk dari tepung sorgum menjadi lebih variatif. Terutama untuk sorgum ini sendiri memiliki manfaat untuk kesehatan,” ujar Retno.

Menurutnya, pelatihan selama dua hari itu memang berfokus pada pembuatan cake and cookies. Selain menggunakan sorgum, terdapat pula pengolahan pakcoy menjadi produk seperti kue pie.

Pengalaman tersebut memberi tambahan pengetahuan bagi para anggota kelompok untuk mengeksplorasi bahan pangan yang tersedia menjadi produk yang lebih beragam.
Retno pun menyampaikan rasa terima kasih atas kesempatan yang diberikan oleh Pertamina Patra Niaga Kilang Dumai.

“Kami sangat berterima kasih kepada PT Pertamina Patra Niaga RU Dumai karena telah memberikan kesempatan kepada kami untuk terus belajar dan mengembangkan bahan sorgum itu sendiri,” tuturnya.

Ucapan itu menggambarkan betapa berarti kesempatan belajar bagi kelompok usaha yang sedang membangun pijakan. Sebab, bagi UMKM yang masih bertumbuh, pengetahuan baru bukan hanya menambah keterampilan, melainkan juga membuka keyakinan untuk melangkah lebih jauh.

Seribu Produk Terjual, Seribu Langkah Menuju Kemandirian

Perjalanan Wirani Rejosari mulai menunjukkan perkembangan. Sejak merintis usaha pada 2025, kelompok ini telah berhasil menjual lebih dari 1.000 produk.
Angka tersebut menjadi bagian penting dari perjalanan usaha mereka. Di balik setiap produk yang terjual, ada proses produksi, ketekunan, dan upaya untuk memperkenalkan hasil olahan mereka kepada konsumen.

Perjalanan itu juga membawa Wirani Rejosari memperoleh kesempatan tampil bersama UMKM mitra binaan Pertamina lainnya dalam Pertamina Expo Pekanbaru yang berlangsung pada 25–27 September 2026 di Living World Pekanbaru.

Keikutsertaan dalam kegiatan tersebut menjadi ruang untuk memperkenalkan produk sekaligus memperluas jejaring usaha. Bagi kelompok yang baru merintis perjalanan bisnis, kesempatan bertemu konsumen dan mengenalkan produk di luar lingkungan sekitar merupakan bagian dari proses untuk terus berkembang.

Tentu, perjalanan menuju usaha yang mapan masih membutuhkan kerja keras. Penjualan perlu dijaga, kualitas harus dipertahankan, dan inovasi mesti terus dilakukan. Namun, capaian yang telah diraih menunjukkan bahwa langkah kecil yang dijalankan secara konsisten dapat membuka peluang yang lebih besar.

Bagi sepuluh ibu rumah tangga ini, JELITA bukan sekadar nama produk. Usaha tersebut menjadi ruang bagi mereka untuk mengembangkan kemampuan, bekerja bersama, dan mengupayakan masa depan ekonomi yang lebih baik.

Pertamina Patra Niaga Bukan Sekadar Membina Usaha, tetapi Menumbuhkan Harapan

Foto : Area Manager Communication, Relations & CSR PT Pertamina Patra Niaga Refinery Unit Dumai, Tengku Muhammad Rum (dua dari kiri). PT Pertamina Patra Niaga Refinery Unit Dumai berkolaborasi dengan Dinas Ketenagakerjaan Kota Dumai melakukan pelatihan kepada kelompok Wirani Rejosari untuk mempelajari inovasi pengolahan sorgum menjadi aneka kue dan camilan.

Area Manager Communication, Relations & CSR PT Pertamina Patra Niaga Refinery Unit Dumai, Tengku Muhammad Rum, mengatakan dukungan kepada kelompok masyarakat binaan merupakan wujud komitmen perusahaan dalam mendorong kemandirian ekonomi masyarakat di sekitar wilayah operasional kilang melalui pemberdayaan yang berkelanjutan.

“Kami melihat potensi Ibu-ibu Wirani Rejosari ini sangat potensial akan menjadi UMKM yang berdaya saing di Dumai. Karena itu kami terus memberikan dukungan yang relevan dengan kebutuhan mereka. Selain pendampingan dan sarana prasarana, kami juga men-challenge ibu-ibu ini agar bagaimana mereka bisa terus semangat meningkatkan kualitas mutu produk sekaligus menghadirkan inovasi produk yang baru, dengan harapan ke depannya jangkauan pasar semakin luas,” ungkap Muhammad Rum.

Pernyataan tersebut menegaskan bahwa pembinaan UMKM tidak cukup hanya dengan memberikan bantuan sesaat. Pelaku usaha juga membutuhkan pendampingan yang sesuai dengan kebutuhan, kesempatan meningkatkan keterampilan, serta dorongan untuk terus menciptakan produk yang mampu bersaing.

Bagi Wirani Rejosari, proses pembinaan itu menjadi bagian dari perjalanan panjang untuk membangun usaha yang lebih kuat. Harapannya, keterampilan yang diperoleh dapat diterapkan dalam kegiatan produksi sehari-hari sehingga kualitas produk semakin baik dan peluang pasar semakin terbuka.

Di sisi lain, kegiatan kelompok ini juga memiliki dimensi sosial. Melalui pengembangan pangan bergizi, Wirani Rejosari turut mendukung upaya peningkatan kualitas kesehatan masyarakat rentan, termasuk balita, ibu hamil, serta pendampingan kesehatan bagi lansia.
Dengan demikian, usaha yang mereka bangun tidak hanya berorientasi pada penjualan. Ada pula semangat untuk menghadirkan manfaat bagi lingkungan sekitar melalui pengembangan pangan yang memperhatikan nilai gizi.

Dari Sepuluh Perempuan, Tumbuh Harapan untuk Masa Depan

Kisah Wirani Rejosari memperlihatkan bahwa perjalanan sebuah UMKM bukan semata-mata tentang berapa banyak produk yang berhasil dijual. Di dalamnya terdapat perjuangan untuk belajar, keberanian untuk mencoba, dan tekad untuk tidak berhenti ketika menghadapi keterbatasan.

Sepuluh ibu rumah tangga yang berhimpun dalam kelompok ini sedang membuktikan bahwa potensi ekonomi dapat tumbuh dari lingkungan terdekat, dari bahan pangan lokal, dan dari kemauan untuk bekerja bersama.
Dukungan Pertamina Patra Niaga Kilang Dumai menjadi salah satu bagian penting dalam perjalanan mereka untuk memperkuat keterampilan dan mengembangkan usaha.

Sementara itu, kerja keras para anggota tetap menjadi tenaga utama yang menggerakkan kelompok ini untuk terus melangkah. Jalan menuju kemandirian ekonomi tentu tidak selalu mudah. Masih ada tantangan yang harus dijawab, mulai dari menjaga mutu produk hingga memperluas jangkauan pemasaran. Namun, selama kemauan untuk belajar dan berinovasi tetap terpelihara, peluang untuk tumbuh akan selalu terbuka.

Dari Kelurahan Tanjung Palas, kisah Wirani Rejosari menyampaikan pesan sederhana tetapi bermakna: bahwa di balik dapur dan kesibukan rumah tangga, perempuan memiliki potensi untuk membangun usaha, menciptakan nilai ekonomi, dan menghadirkan manfaat bagi masyarakat.

Sebab, terkadang perubahan besar tidak dimulai dari langkah yang megah. Ia justru berawal dari keberanian sepuluh perempuan untuk mencoba, dari tangan-tangan yang tekun mengolah bahan pangan, dan dari kesempatan belajar yang membuat mereka percaya bahwa hari esok masih menyimpan harapan.

Wirani Rejosari sedang merajut harapan itu, satu produk demi satu produk, menuju masa depan yang lebih mandiri bersama JELITA.

Penulis : Ridwan Safri

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *