Betuah Laundry Temukan Harapan Baru Bersama Pertamina Dumai

Foto : Betuah Laundry, usaha kelompok masyarakat di RT 02, Kelurahan Tanjung Palas, Kecamatan Dumai Timur, Kota Dumai, Povinsi Riau.

Oleh Ridwan Safri

TIDAK semua keberhasilan lahir dari usaha yang langsung berjalan mulus. Ada yang harus melewati masa-masa sulit, bertahan ketika penghasilan belum seberapa, dan terus berjuang meski hasil yang diperoleh belum sebanding dengan tenaga yang dikeluarkan.

Kisah itulah yang mewarnai perjalanan Betuah Laundry, usaha kelompok masyarakat di RT 02, Kelurahan Tanjung Palas, Kecamatan Dumai Timur, Kota Dumai, Povinsi Riau.

Ketika pertama kali berdiri pada 2023, Betuah Laundry belum menjadi usaha dengan pendapatan puluhan juta rupiah seperti sekarang. Dengan 10 orang anggota kelompok, usaha ini ketika itu hanya mampu menghasilkan sekitar Rp1,5 juta per bulan.

Bagi sebuah kelompok yang ingin membangun kehidupan ekonomi bersama, angka tersebut tentu bukan perkara mudah. Penghasilan yang masih terbatas harus menjadi pijakan untuk mempertahankan usaha, memenuhi kebutuhan operasional, dan menjaga semangat seluruh anggota agar tidak menyerah di tengah perjalanan.

Di balik tumpukan pakaian yang harus dicuci dan disetrika, tersimpan harapan sepuluh orang untuk memperbaiki kehidupan mereka. Mereka tidak sekadar ingin memiliki usaha, tetapi juga ingin membangun sumber penghasilan yang dapat memberikan manfaat bagi para anggota.

Perjalanan itu perlahan menemukan titik terang ketika Betuah Laundry mendapatkan pembinaan dari PT Pertamina Patra Niaga Refinery Unit Dumai.

Dukungan berupa peralatan usaha dan bantuan dana operasional menjadi bagian dari proses pengembangan yang membantu kelompok tersebut memperkuat usahanya. Dari usaha yang semula berpenghasilan sekitar Rp1,5 juta per bulan, Betuah Laundry kini mampu mencatatkan pendapatan hingga Rp22 juta per bulan.

Perubahan itu bukan hanya menunjukkan pertumbuhan angka pendapatan. Di baliknya, ada proses panjang tentang kesempatan, ketekunan, dan perjuangan sekelompok orang yang berusaha mengubah keterbatasan menjadi kekuatan.

Memulai Usaha Sederhana Menuju Harapan Besar

Sebelum mengembangkan Betuah Laundry, kelompok ini lebih dahulu dikenal dengan nama Barter Jaya. Kegiatan awal mereka adalah budidaya ikan lele, sebuah usaha yang menjadi langkah pertama dalam upaya membangun kegiatan ekonomi bersama.

Seiring perjalanan waktu, kelompok tersebut kemudian mengembangkan usaha laundry. Untuk memperkuat kelembagaan dan kegiatan usahanya, mereka membentuk Koperasi Jasa Barter Jaya Maju.

Perubahan bidang usaha itu menjadi babak baru bagi kelompok. Mencuci dan menyetrika pakaian mungkin terlihat sebagai pekerjaan sehari-hari yang sederhana. Namun, ketika dijalankan secara profesional, pekerjaan tersebut dapat menjadi peluang ekonomi yang menjanjikan.

Tentu, memulai usaha laundry bukan hanya soal memiliki mesin cuci dan setrika. Ada kebutuhan air, bahan pencuci, perawatan peralatan, biaya operasional, serta tuntutan menjaga kualitas layanan agar pelanggan tetap percaya.

Pada masa awal, ketika pendapatan masih sekitar Rp1,5 juta per bulan, berbagai kebutuhan tersebut menjadi tantangan tersendiri. Kelompok harus terus berusaha agar kegiatan usaha tetap berjalan, sementara peluang untuk berkembang masih membutuhkan dukungan.
Di tengah kondisi itulah pembinaan dari Pertamina Patra Niaga menjadi bagian penting dalam perjalanan Betuah Laundry.

Pembinaan Pertamina, Menguatkan Langkah yang Sempat Terbatas

Foto : Sekretaris Betuah Laundry, Surya dan Bendahara, Syafrizal.

Bagi Betuah Laundry, dukungan PT Pertamina Patra Niaga Refinery Unit Dumai bukan sekadar bantuan untuk menjalankan kegiatan usaha. Dukungan itu menjadi kesempatan untuk memperbaiki fasilitas, menjaga kelangsungan operasional, dan membangun fondasi usaha yang lebih kuat.

Bendahara Betuah Laundry, Syafrizal, menjelaskan bahwa bantuan yang diterima kelompok diberikan secara bertahap. Pada tahap awal, dukungan berupa barang dan peralatan untuk menunjang kegiatan laundry. Selanjutnya, bantuan juga diberikan dalam bentuk uang tunai untuk kebutuhan usaha.

“Bantuan yang kami terima dari PT Pertamina Patra Niaga ini bertahap. Kami akan dibimbing oleh Pertamina Patra itu selama lima tahun. Setelah itu kami sudah harus menjalankan usaha ini secara mandiri,” terang Syafrizal, Kamis (22/10/2026).

Ia mengatakan, dukungan tersebut telah diterima sejak 2023 hingga sekarang. Dana yang diterima digunakan untuk kepentingan usaha, termasuk perawatan mesin, kebutuhan air, dan biaya operasional lainnya.

Bagi usaha yang setiap hari bergantung pada peralatan dan proses pencucian, keberadaan fasilitas yang memadai menjadi faktor penting. Mesin yang berfungsi baik, ketersediaan kebutuhan produksi, serta biaya operasional yang terkelola dapat membantu usaha menjaga mutu layanan dan memenuhi permintaan pelanggan.

Pembinaan selama lima tahun itu juga memberikan arah bagi kelompok untuk menyiapkan kemandirian. Dukungan yang diterima bukan untuk membuat usaha terus bergantung pada bantuan, melainkan menjadi modal untuk membangun kemampuan agar suatu hari nanti mereka dapat berdiri di atas kekuatan sendiri.

Sebab, keberhasilan sebuah pembinaan tidak hanya diukur dari seberapa besar bantuan yang diberikan, tetapi juga dari sejauh mana penerimanya mampu mengembangkan usaha dan mempertahankannya secara berkelanjutan.

Dari Rp1,5 Juta Menjadi Rp22 Juta Sebulan

Perubahan paling nyata dalam perjalanan Betuah Laundry terlihat dari pendapatannya.
Jika pada awal berdiri usaha ini hanya menghasilkan sekitar Rp1,5 juta per bulan, kini pendapatannya telah mencapai Rp22 juta per bulan.

Peningkatan tersebut menjadi gambaran bagaimana usaha yang mendapat dukungan fasilitas dan pendampingan memiliki peluang untuk berkembang, terutama ketika dikelola dengan ketekunan dan kemampuan membaca kebutuhan pasar.

Kini, Betuah Laundry melayani pencucian dan penyetrikaan pakaian kerja, termasuk wearpack milik pekerja PT Pertamina Patra Niaga Dumai. Selain itu, kelompok ini juga menerima cucian dari masyarakat umum. Sebagian besar pelanggan berasal dari lingkungan Pertamina Patra Niaga, dengan jumlah cucian pakaian kerja yang mencapai hampir 1.500 lembar setiap bulan.

Untuk pencucian dan penyetrikaan wearpack, tarif yang dikenakan sebesar Rp11.000 per lembar. Sementara itu, pelanggan umum dikenakan tarif berdasarkan berat cucian, menyesuaikan harga pasar.

Menurut Syafrizal, pelanggan dari masyarakat umum juga memberikan kontribusi terhadap kegiatan usaha, dengan volume cucian berkisar 100 hingga 300 kilogram per bulan.

“Dalam tahun 2026 ini pendapatan per bulannya semakin meningkat dari tahun sebelumnya setelah dibantu oleh Pertamina Patra Niaga,” ujar Syafrizal.

Angka-angka itu memperlihatkan bahwa Betuah Laundry mulai membangun pijakan usaha yang lebih kuat. Pelanggan yang terus menggunakan jasa mereka menjadi bagian dari perputaran ekonomi yang memungkinkan kegiatan usaha tetap berjalan.

Bagi sepuluh anggota kelompok, pertumbuhan tersebut membuka harapan bahwa kerja bersama yang mereka bangun dapat memberikan hasil yang lebih baik dibandingkan masa-masa awal merintis usaha.

Ketika Aktivitas Kilang Membawa Peluang Tambahan

Perjalanan Betuah Laundry juga tidak terlepas dari dinamika kegiatan industri di Kota Dumai.
Pada waktu tertentu, jumlah cucian dari Pertamina Patra Niaga dapat meningkat tajam, terutama ketika berlangsung Turn Around (TA), yakni pekerjaan pemeliharaan kilang yang bertujuan memperbaiki dan menjaga performa fasilitas pengolahan.

Kegiatan TA yang berlangsung sekitar 40 hari dapat menghadirkan peningkatan permintaan jasa laundry dibandingkan hari-hari biasa.
Bagi Betuah Laundry, momentum tersebut menjadi peluang untuk meningkatkan aktivitas usaha sekaligus memenuhi kebutuhan pelanggan dalam jumlah lebih besar.

Namun, meningkatnya pesanan juga menuntut kesiapan. Pakaian kerja harus ditangani dengan baik, dicuci bersih, disetrika, dan diselesaikan sesuai waktu yang dibutuhkan pelanggan.
Di sinilah pentingnya fasilitas dan pengelolaan usaha yang semakin baik. Ketika permintaan meningkat, kelompok perlu memastikan bahwa kualitas layanan tetap terjaga.

Dari pekerjaan mencuci pakaian yang mungkin dianggap sederhana, Betuah Laundry belajar bahwa peluang usaha dapat tumbuh ketika kebutuhan pelanggan bertemu dengan kesiapan untuk memberikan layanan yang berkualitas.

Tidak Hanya Mencuci, tetapi Juga Menjaga Lingkungan

Foto : Sekretaris dan Bendahara Betuah Laundry menyiapkan pakaian yang sudah di cuci dan di setrika untuk diantar ke pelanggan.

Di tengah persaingan usaha laundry, Betuah Laundry berupaya membangun ciri khas tersendiri.

Sekretaris Betuah Laundry, Surya, mengatakan bahwa kelompok tersebut mengembangkan layanan laundry yang mengutamakan kualitas dan kenyamanan pelanggan.

Salah satu upayanya adalah menggunakan sabun alami buatan sendiri yang dikembangkan dengan memanfaatkan ekstrak teki. Bahan tersebut digunakan sebagai bagian dari inovasi produk pencuci yang diarahkan untuk mendukung kebersihan pakaian dan kepedulian terhadap lingkungan.

Betuah Laundry juga menawarkan layanan antar jemput untuk memudahkan pelanggan yang memiliki kesibukan. Melalui layanan ini, pelanggan tidak harus datang langsung untuk menyerahkan atau mengambil pakaian.
Selain itu, tersedia layanan ekspres bagi pelanggan yang membutuhkan pakaian dalam waktu lebih singkat.

Berbagai layanan tersebut menunjukkan upaya kelompok untuk memberikan nilai tambah, bukan sekadar bersaing dalam harga.
Inovasi juga dikembangkan melalui produksi deterjen cair secara mandiri. Dengan membuat sabun sendiri, koperasi berupaya mengendalikan biaya bahan pencuci sehingga biaya operasional dapat lebih efisien.

Langkah ini penting karena usaha laundry sangat bergantung pada pengelolaan biaya. Semakin baik kelompok mengatur kebutuhan bahan pencuci, air, listrik, dan perawatan mesin, semakin besar pula peluang untuk menjaga keberlanjutan usaha.

Dengan demikian, inovasi sabun bukan hanya tentang menghasilkan produk baru, tetapi juga menjadi strategi untuk memperkuat usaha utama.

Dari Laundry, Tumbuh Peluang Usaha Lain

Semangat kelompok untuk berkembang tidak berhenti pada layanan laundry.
Melalui Koperasi Jasa Barter Jaya Maju, mereka juga mengembangkan usaha pengolahan deterjen cair dan pupuk organik cair.

Diversifikasi usaha tersebut dilakukan sebagai upaya menambah sumber pendapatan bagi anggota koperasi. Dengan tidak hanya mengandalkan satu jenis kegiatan ekonomi, kelompok berharap memiliki peluang lebih luas untuk memperkuat keuangan dan mengembangkan potensi yang dimiliki.

Pembuatan deterjen cair memiliki hubungan langsung dengan kegiatan laundry, karena produknya dapat digunakan untuk menunjang kebutuhan usaha sendiri sekaligus berpotensi dikembangkan sebagai produk yang memiliki nilai jual.

Sementara itu, usaha pupuk organik cair membuka ruang bagi kelompok untuk mengembangkan kegiatan ekonomi lain yang berbeda dari layanan pencucian pakaian.
Semua itu memperlihatkan adanya keinginan untuk terus belajar dan tidak berhenti pada pencapaian yang sudah diperoleh.

Dari budidaya ikan lele, kemudian laundry, produksi deterjen cair, hingga pupuk organik cair, perjalanan kelompok ini menggambarkan upaya mencari peluang dan membangun sumber penghasilan secara bersama-sama.

Lima Tahun untuk Menyiapkan Kemandirian

Foto : Bendahara Betuah Laundry, Syafrizal.

Bagi Betuah Laundry, pendapatan Rp22 juta per bulan merupakan pencapaian penting. Namun, perjalanan mereka belum selesai.
Masih ada tantangan untuk menjaga pelanggan, mempertahankan kualitas layanan, mengelola biaya produksi, serta mengembangkan usaha agar tetap berjalan ketika permintaan berubah.

Pembinaan selama lima tahun dari Pertamina Patra Niaga menjadi masa yang perlu dimanfaatkan untuk memperkuat kemampuan kelompok. Setelah periode pembinaan berakhir, mereka diharapkan dapat menjalankan usaha secara mandiri.

Kemandirian itu tentu membutuhkan lebih dari sekadar peralatan dan modal. Kelompok juga perlu memiliki tata kelola usaha yang baik, pencatatan keuangan yang tertib, perencanaan biaya, serta strategi pemasaran yang mampu menjaga keberlangsungan pendapatan.

Harapannya, ketika dukungan pembinaan berakhir, Betuah Laundry tidak kembali menghadapi keterbatasan seperti pada masa awal berdiri. Sebaliknya, pengalaman dan kemampuan yang telah dibangun dapat menjadi bekal untuk terus tumbuh.

Bagi kelompok yang pernah memulai perjalanan dengan pendapatan Rp1,5 juta per bulan, menjaga pencapaian hari ini sekaligus menyiapkan masa depan merupakan bagian penting dari perjuangan.

Lebih dari Sekadar Angka Pendapatan

Kisah Betuah Laundry di Dumai memperlihatkan bahwa usaha kecil memiliki peluang untuk tumbuh ketika potensi masyarakat bertemu dengan kesempatan, pendampingan, dan kemauan untuk terus berkembang.

Dari sepuluh anggota kelompok yang dahulu merintis usaha dengan penghasilan terbatas, kini hadir sebuah kegiatan ekonomi yang melayani pelanggan industri dan masyarakat umum, dengan pendapatan mencapai Rp22 juta per bulan.

Di balik angka tersebut, ada kerja yang harus terus dilakukan setiap hari. Ada pakaian yang menunggu dicuci, mesin yang perlu dirawat, pesanan yang harus diselesaikan, serta pelanggan yang mengharapkan layanan terbaik.

Keberhasilan mereka bukan berarti semua tantangan telah berakhir. Akan tetapi, perubahan yang dicapai menunjukkan bahwa keterbatasan pada masa awal bukanlah akhir dari sebuah perjalanan.

Melalui pembinaan PT Pertamina Patra Niaga Refinery Unit Dumai, Betuah Laundry memperoleh dukungan untuk memperkuat langkah dan memperluas peluang usaha. Sementara itu, ketekunan anggota menjadi kekuatan yang menjaga agar kesempatan tersebut dapat dimanfaatkan.

Pada akhirnya, keberhasilan Betuah Laundry bukan hanya tentang perubahan pendapatan dari Rp1,5 juta menjadi Rp22 juta sebulan. Lebih dari itu, kisah ini adalah tentang sekelompok orang yang berani memulai, bertahan ketika keadaan belum mudah, dan terus berusaha membangun masa depan melalui pekerjaan yang mereka tekuni.

Dari tumpukan pakaian yang dicuci setiap hari, tumbuh harapan tentang kehidupan yang lebih baik. Dari usaha yang pernah berjalan dengan hasil terbatas, lahir keyakinan bahwa kerja keras dapat membuka jalan menuju kemandirian.

Dan dari perjalanan Betuah Laundry, tersampaikan sebuah pesan sederhana: ketika usaha kecil diberi kesempatan untuk berkembang dan dikelola dengan kesungguhan, sesuatu yang semula terasa berat dapat perlahan berubah menjadi sumber harapan bagi masa depan.

Nelayan Ngokang Menjadi Pengusaha Laundry yang Sukses

Tak pernah terbayangkan sebelumnya oleh Risman dan sembilan rekannya, kehidupan yang selama ini bergantung pada aktivitas sebagai nelayan ngokang akan berubah menjadi perjalanan baru dalam dunia usaha.

Di tengah keterbatasan ekonomi dan semakin sempitnya ruang untuk mencari nafkah di laut, mereka perlahan menemukan jalan menuju kemandirian melalui Betuah Laundry, usaha binatu ramah lingkungan yang tumbuh berkat pembinaan PT Pertamina Patra Niaga Refinery Unit Dumai.

Bagi Risman, Ketua Betuah Laundry, perjalanan ini bukan sekadar tentang membuka usaha pencucian pakaian. Lebih dari itu, ini merupakan kisah tentang perjuangan mempertahankan kehidupan keluarga, keberanian meninggalkan ketergantungan pada pekerjaan lama, serta harapan untuk membangun masa depan yang lebih baik.

Dahulu, kehidupan Risman dan rekan-rekannya banyak bergantung pada aktivitas ngokang, sebuah pekerjaan yang telah lama dikenal masyarakat pesisir Dumai. Mereka mendatangi kapal-kapal besar yang berlabuh di perairan Dumai untuk menjajakan makanan, buah-buahan, dan kebutuhan sehari-hari.

Dalam aktivitas tersebut, transaksi tidak selalu menggunakan uang. Sistem barter menjadi bagian dari keseharian mereka. Sebagai imbalan atas barang yang dijual, para nelayan terkadang memperoleh barang bekas kapal, seperti besi dan drum, yang kemudian dibawa ke darat untuk dijual kembali.

Dari pekerjaan sederhana itulah mereka berusaha memenuhi kebutuhan rumah tangga. Hasilnya mungkin tidak selalu besar, tetapi cukup berarti untuk menyambung kehidupan keluarga dari hari ke hari. Namun, perjalanan mencari nafkah itu tidak selamanya mudah.

Seiring dengan pengaturan alur pelayaran dan daerah labuh kapal di Pelabuhan Dumai, ruang gerak nelayan ngokang semakin terbatas. Di sisi lain, aktivitas tersebut juga memiliki risiko keselamatan yang tidak kecil. Ketidakpastian penghasilan membuat mereka harus terus memikirkan cara lain agar dapur keluarga tetap mengepul.

Di tengah keadaan yang penuh tantangan itu, Risman dan rekan-rekannya menyadari bahwa mereka tidak bisa selamanya menggantungkan kehidupan pada pekerjaan lama. Mereka membutuhkan peluang baru, pekerjaan yang lebih aman, serta sumber penghasilan yang dapat dikembangkan untuk masa depan.

Dari Keinginan Beternak Lele, Lahir Usaha Laundry Ramah Lingkungan

Harapan baru mulai terbuka ketika Kelompok Nelayan Barter Jaya mengajukan proposal usaha ternak lele kepada Pertamina. Mereka ingin membangun usaha bersama yang dapat menjadi sumber penghasilan alternatif bagi para anggotanya.

Permohonan tersebut kemudian mendapat perhatian dari tim pendamping masyarakat PT Kilang Pertamina Internasional (KPI) Unit Dumai, yang saat ini berubah nama menjadi PT Pertaminan Patra Niaga menjalankan fungsi pembinaan masyarakat. Dalam pertemuan bersama kelompok, berbagai gagasan usaha dibahas untuk menemukan pilihan yang paling sesuai dengan kemampuan anggota dan kondisi lingkungan setempat.

Usaha ternak lele akhirnya dinilai memiliki sejumlah tantangan, mulai dari biaya pakan, pengelolaan kualitas air hingga risiko kematian ikan. Diskusi pun berkembang ke berbagai alternatif usaha lainnya.

Risman dan rekan-rekannya menyampaikan beragam ide. Ada yang tertarik pada usaha kuliner, ada pula yang ingin mengembangkan budidaya ikan. Risman sendiri memiliki ketertarikan terhadap pembuatan sabun.
Dari diskusi tersebut, muncul gagasan untuk membuka usaha laundry atau pencucian pakaian. Pilihan itu dinilai memiliki peluang karena Dumai merupakan kota industri dengan aktivitas ekonomi yang terus bergerak dan kebutuhan jasa pencucian pakaian yang dapat dijangkau masyarakat.

Bagi mereka yang sebelumnya terbiasa bekerja di perairan, mengelola usaha laundry tentu bukan perkara yang langsung mudah. Ada keterampilan baru yang harus dipelajari, kebiasaan kerja yang perlu dibangun, serta tanggung jawab usaha yang harus dijalankan bersama.

Namun, mereka memilih untuk mencoba.
Dengan pendampingan Pertamina, lahirlah Betuah Laundry di Kelurahan Tanjung Palas, Kecamatan Dumai Timur. Usaha ini dikelola oleh sepuluh anggota Kelompok Barter Jaya, yang bersama-sama belajar menjalankan bisnis dari awal.

Sepuluh Nelayan, Satu Harapan untuk Kehidupan yang Lebih Baik


Foto : Sekretaris Betuah Laundry, Surya.

Keunikan Betuah Laundry terletak pada orang-orang yang mengelolanya. Jika usaha laundry pada umumnya identik dengan pekerja perempuan, Betuah Laundry justru dijalankan oleh sepuluh laki-laki yang sebelumnya menggantungkan hidup pada aktivitas nelayan ngokang.

Mereka belajar mencuci, menjemur, melipat, hingga menyetrika pakaian. Pekerjaan yang semula terasa asing perlahan menjadi bagian dari rutinitas baru. Sistem kerja bergiliran atau shift diterapkan agar seluruh anggota memiliki kesempatan terlibat dalam usaha. Setiap anggota memperoleh jadwal kerja sesuai pembagian kelompok, sehingga kegiatan laundry dapat berjalan bersama tanpa harus meninggalkan seluruh aktivitas lainnya.

Di tempat inilah mereka belajar bahwa membangun usaha tidak cukup hanya dengan modal. Dibutuhkan kedisiplinan, kerja sama, kepercayaan, serta kemauan untuk terus belajar.

Ada proses panjang di balik setiap pakaian yang selesai dicuci dan disetrika. Ada tangan-tangan yang sebelumnya terbiasa menghadapi kerasnya kehidupan pesisir, kini bekerja menata pakaian pelanggan dengan penuh tanggung jawab.

Perubahan itu menjadi pengalaman berharga bagi Risman dan rekan-rekannya. Mereka tidak lagi hanya memikirkan bagaimana memperoleh penghasilan dari laut, tetapi juga mulai membangun usaha yang dapat dikembangkan secara berkelanjutan.

Sentuhan Pembinaan Pertamina Mengubah Cara Mereka Memandang Masa Depan

Sejak akhir 2023, Betuah Laundry mendapatkan berbagai bentuk pembinaan dari Pertamina, mulai dari dukungan sarana dan prasarana, penguatan manajemen usaha, hingga pelatihan untuk mengembangkan produk ramah lingkungan.

Menurut Risman, dukungan tersebut diberikan secara bertahap selama beberapa tahun. Pada tahun pertama, kelompok memperoleh dukungan sebesar Rp170 juta, kemudian Rp100 juta pada tahun kedua, Rp100 juta pada tahun ketiga, dan Rp70 juta pada tahun keempat.
“Di tahun pertama kami dibantu Pertamina Dumai sebesar Rp170 juta, tahun kedua Rp100 juta, tahun ketiga Rp100 juta, dan tahun keempat Rp70 juta. Tahun kelima kami sudah harus mandiri,” ungkap Risman, Senin (26/10/2026).

Dukungan itu bukan sekadar menyediakan perlengkapan untuk menjalankan usaha. Pendampingan juga menjadi bagian penting agar kelompok mampu memahami cara mengelola bisnis, menjaga kualitas pelayanan, dan merencanakan keberlangsungan usaha ketika masa pembinaan berakhir.

Bagi Risman dan anggota kelompok, pembinaan tersebut membuka kesempatan untuk mengenal dunia usaha secara lebih luas. Mereka mulai memahami bahwa keterbatasan pekerjaan lama bukan berarti masa depan harus berhenti pada keadaan yang sama.

Dengan kemauan belajar dan dukungan yang tepat, keterampilan baru dapat tumbuh. Dari keterampilan itulah peluang penghasilan baru mulai dibangun.

Rumput Teki, Inovasi Kecil dengan Harapan Besar

Perjalanan Betuah Laundry tidak berhenti pada jasa pencucian pakaian. Semangat untuk menciptakan usaha yang berbeda mendorong kelompok ini mempelajari pembuatan sabun ramah lingkungan berbahan dasar rumput teki, tanaman yang banyak tumbuh di sekitar lingkungan mereka.

Inovasi tersebut menjadi salah satu ciri khas yang ingin dikembangkan Betuah Laundry. Bahan yang sebelumnya mungkin hanya dianggap sebagai tanaman liar mulai dipelajari potensinya untuk menjadi bagian dari produk pendukung usaha. Namun, perjalanan untuk menjadikan sabun tersebut sebagai produk yang dipasarkan secara luas masih membutuhkan proses, termasuk pengurusan perizinan yang diperlukan.

“Kami menggunakan sabun buatan sendiri dari rumput teki. Untuk memasarkannya, kami masih dalam tahap pengurusan izin. Kami juga memiliki produk pupuk yang dibina oleh Pertamina Patra Niaga Dumai,” kata Risman.

Langkah tersebut menunjukkan bahwa kelompok tidak hanya ingin bertahan dengan satu jenis usaha. Mereka mulai berupaya mengembangkan produk tambahan yang berpotensi memberikan nilai ekonomi baru.
Bagi kelompok Barter Jaya, rumput teki menjadi simbol bahwa peluang terkadang hadir dari sesuatu yang tumbuh di sekitar kehidupan sehari-hari. Dengan pengetahuan, pendampingan, dan ketekunan, sesuatu yang sederhana dapat dipelajari untuk menjadi bagian dari inovasi usaha.

Meski begitu, mereka masih memiliki pekerjaan rumah. Produk harus memenuhi ketentuan yang berlaku, kualitas perlu dijaga, dan strategi pemasaran harus terus dikembangkan agar inovasi tersebut benar-benar memberikan manfaat ekonomi.

Bukan Sekadar Bantuan, Melainkan Jalan Menuju Kemandirian

Area Manager Communication, Relations & CSR PT Pertamina Patra Niaga Refinery Unit Dumai, Tengku Muhammad Rum, menjelaskan bahwa pembinaan terhadap kelompok masyarakat tidak semata-mata berorientasi pada pemberian bantuan, tetapi juga pada pembentukan kemandirian ekonomi.

“Program ini bukan sekadar memberi bantuan. Kami membangun kemandirian. Warga yang dulunya nelayan kini punya keahlian baru, penghasilan baru, dan semangat baru,” ujarnya.

Menurutnya, pendekatan tersebut sejalan dengan konsep sustainable livelihood, yakni upaya memperkuat kemampuan masyarakat dalam membangun sumber penghidupan yang lebih tangguh dan berkelanjutan di tengah perubahan kondisi sosial maupun ekonomi.

Melalui pembinaan Betuah Laundry, Pertamina berupaya mendorong masyarakat agar memiliki kemampuan untuk mengelola usaha, memanfaatkan peluang, serta mempersiapkan diri menghadapi masa ketika pendampingan perusahaan berakhir.

Bagi Risman dan sembilan rekannya, kemandirian menjadi tantangan berikutnya. Mereka harus terus menjaga kualitas pelayanan, mempertahankan kepercayaan pelanggan, mengelola keuangan, serta mengembangkan usaha agar mampu berjalan dengan kekuatan sendiri.

Sebab, keberhasilan sebuah program pemberdayaan bukan hanya terlihat dari berdirinya tempat usaha atau tersedianya peralatan. Keberhasilan yang lebih bermakna adalah ketika masyarakat memiliki keterampilan, keberanian, dan kemampuan untuk melanjutkan usaha tanpa terus bergantung pada bantuan.

Dari Perairan ke Tempat Laundry, Dari Keterbatasan Menuju Harapan

Kisah Betuah Laundry menjadi gambaran bahwa perubahan kehidupan dapat dimulai dari kesempatan yang sederhana. Risman dan rekan-rekannya tidak serta-merta meninggalkan segala kesulitan setelah menerima pembinaan. Mereka tetap harus bekerja, belajar, menghadapi tantangan, dan membuktikan bahwa usaha yang dibangun bersama memiliki masa depan.

Dahulu, mereka mengarungi perairan untuk mencari penghasilan dari kapal-kapal yang berlabuh. Kini, mereka membangun harapan dari tumpukan pakaian yang harus dicuci, dikeringkan, dilipat, dan disetrika.

Dua pekerjaan yang berbeda, tetapi memiliki tujuan yang sama: mencari nafkah secara halal, memenuhi kebutuhan keluarga, dan memperjuangkan kehidupan yang lebih baik.
Betuah Laundry pun menjadi lebih dari sekadar usaha jasa pencucian pakaian. Ia merupakan ruang bagi sepuluh nelayan untuk menemukan kemampuan baru, memperkuat kerja sama, dan membangun kepercayaan terhadap masa depan mereka sendiri.

Pembinaan Pertamina Dumai telah membuka pintu kesempatan. Namun, perjalanan menuju kemandirian tetap berada di tangan Risman dan seluruh anggota kelompok yang setiap hari berjuang menjaga usaha tersebut agar terus tumbuh.

Di balik pakaian-pakaian bersih yang kembali kepada pelanggan, tersimpan kisah tentang perjuangan manusia pesisir yang tidak menyerah pada perubahan zaman.
Sebab, bagi Risman dan rekan-rekannya, keberhasilan bukan semata-mata tentang berapa besar usaha yang dapat dibangun.

Keberhasilan juga berarti memiliki pilihan pekerjaan yang lebih baik, memperoleh kesempatan untuk berkembang, dan menjaga harapan agar keluarga mereka dapat menjalani hari esok dengan lebih tenang.

Dari kehidupan nelayan ngokang hingga menjadi pengelola green laundry, Betuah Laundry membuktikan bahwa ketika kemauan masyarakat bertemu dengan pembinaan yang tepat, jalan menuju kemandirian dapat mulai terbuka.

Penulis : Ridwan Safri

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *