
Dumai (Wasiat24.com) — Komitmen membangun lingkungan kerja yang aman dan selamat serta budaya kerja yang inklusif terus diperkuat oleh PT Pertamina Patra Niaga Refinery Unit II Dumai (Kilang Pertamina Dumai). Upaya tersebut diwujudkan melalui keterlibatan aktif seluruh insan perusahaan, termasuk pekerja perempuan dalam penguatan budaya keselamatan kerja di lingkungan operasional kilang.
Melalui komunitas Perempuan Pertamina Tangguh Inspiratif Wibawa Integritas (PERTIW), Pertamina Patra Niaga Kilang Dumai kembali menggelar Safety Campaign SLP 4.0 pada Jumat (22/5) sebagai upaya penguatan implementasi, awareness, dan kepatuhan terhadap HSSE (Health, Safety, Security, and Environment) di seluruh lini operasional yang bertepatan dengan pelaksanaan Turn Around (TA) Major 2026 yang saat ini tengah berlangsung.
Mengusung tema “Think Safe, Work Safe, Finish Safe – Your Family Awaits!”, sebanyak 21 anggota PERTIWI RUII Dumai kembali beraksi mengampanyekan pentingnya budaya keselamatan kerja kepada para pekerja dan mitra kerja di area operasional kilang dengan terjun langsung mengunjungi beberapa area operasi kilang, yakni HOC, HSC, ME dan Utilities. Kampanye dilakukan secara langsung melalui penyampaian pesan-pesan HSSE serta ajakan untuk selalu bekerja sesuai prosedur keselamatan kerja. Pada kesempatan itu pula, PERTIWI RU II Dumai juga secara langsung mengintervensi pekerja dan mitra kerja apabila ditemukan perilaku kerja yang tidak aman ataupun penggunaan APD yang menyalahi prosedur.
Manager Refinery Bussiness & Optimization PT PPN RU II Dumai sekaligus Ketua PERTIWI RU II Dumai, Ririanti Safrida mengatakan keterlibatan PERTIWI RU II Dumai dalam pelaksanaan Safety Leadership Program (SLP) 4.0 yang dilakukan secara berkelanjutan sejak program tersebut digulirkan merupakan bentuk komitmen pekerja perempuan dalam mendukung penguatan budaya HSSE di lingkungan perusahaan. “Kegiatan ini bukan kali pertama, tetapi sudah berkelanjutan sejak program SLP 4.0 ini masif digiatkan. Keterlibatan aktif para PERTIWI juga menjadi bentuk kepedulian kami untuk memperkuat budaya HSSE di seluruh lini kerja kilang. Sebagai perempuan, istri dan ibu, bagi kami penting rasanya untuk mengingatkan pentingnya bekerja aman dan selamat karena ada keluarga yang menunggu kepulangan kita di rumah,” ujar Ririanti.
Kehadiran pekerja perempuan melalui komunitas PERTIWI dinilai mampu menghadirkan pendekatan komunikasi yang lebih persuasif dan humanis dalam menyampaikan pesan keselamatan. Tidak hanya sebagai bentuk dukungan moral, keterlibatan pekerja perempuan juga menjadi representasi budaya kerja inklusif yang mendorong seluruh pekerja untuk saling peduli dan mengingatkan satu sama lain terhadap pentingnya aspek keselamatan kerja.
Tidak hanya mengampanyekan pesan keselamatan untuk bekerja dengan aman dan selamat di tengah kompleksitas pekerjaan yang dijalankan, PERTIWI RU II Dumai juga memberikan dukungan moral lewat apresiasi yang disampaikan secara langsung kepada para pekerja dan mitra kerja. Selain itu, sebagai bentuk dukungan dan penyemangat selama pelaksanaan TA Major, PERTIWI RU II Dumai turut membagikan minuman segar berupa jus buah yang diyakini dapat membantu menjaga kesehatan dan kebugaran pekerja.
Sementara itu, Area Manager Communication, Relations, & CSR PT Pertamina Patra Niaga RU II Dumai, Tengku Muhammad Rum menegaskan komitmen perusahaan yang terus mendorong keterlibatan seluruh elemen pekerja dalam membangun budaya keselamatan kerja yang kuat, inklusif, dan berkelanjutan.
“Kegiatan ini mencerminkan komitmen perusahaan untuk melibatkan seluruh pihak dalam membangun budaya keselamatan kerja, termasuk pekerja perempuan melalui komunitas PERTIWI. Keterlibatan dan peran aktif dari PERTIWI RU II Dumai menjadi kekuatan penting dalam membangun budaya HSSE yang lebih peduli, humanis terhadap aspek keselamatan dan kepedulian antarpekerja berkat kelebihannya yang memiliki empati tinggi, pungkas Muhammad Rum.
Melalui kegiatan ini, PT Pertamina Patra Niaga RU II Dumai terus menunjukkan komitmennya dalam mengimplementasikan prinsip nilai keberagaman dan kesetaraan sebagai bagian dari prinsip ESG (Environmental, Social, and Governance) guna mendorong terciptanya budaya kerja yang inklusif, berkelanjutan, serta memperkuat implementasi budaya HSSE di lingkungan perusahaan.(rls)









