Bukan Sekadar Batik : Kisah Liza Membangun Jembatan Asa bagi Anak Berkebutuhan Khusus

DURI (Wasiat24.com) – Setiap kali jam praktik dimulai, Liza sering mendapati pemandangan yang sama di ruang kelas Sekolah Luar Biasa (SLB) Aisyiyah wilayah Mandau dan Pinggir.

Beberapa siswa duduk diam dengan pandangan menunduk, sebagian lainnya memegang alat tanpa benar-benar tahu harus berbuat apa. Bukan karena mereka tak mau belajar, tetapi karena metode pembelajaran yang ada belum sepenuhnya memberi ruang bagi mereka untuk mengeksplorasi kemampuan diri.

Sebagai pendidik yang sehari-hari mendampingi anak berkebutuhan khusus, Liza kerap diliputi kegelisahan. Proses belajar yang masih didominasi metode konvensional, minim praktik, membuat siswa cenderung pasif dan kesulitan mengekspresikan diri. Di saat yang sama, peran guru sering kali berhenti pada penyampaian materi, dengan ruang inovasi yang belum berkembang optimal.

“Kadang saya bertanya pada diri sendiri, apakah cara mengajar yang selama ini kami lakukan benar-benar sudah sesuai dengan kebutuhan mereka,” ungkap Liza.

Kekhawatiran itulah yang terus mengiringinya, terutama saat melihat potensi besar dalam diri para siswa yang belum tergali.

Dorongan untuk mencari pendekatan pembelajaran yang lebih bermakna membawa Liza bergabung dengan Program Peningkatan Kualitas Pendidikan Inklusif Berbasis Vokasional yang diinisiasi oleh PT Pertamina Hulu Rokan. Bagi Liza, program ini bukan sekadar pelatihan, melainkan harapan baru untuk menghadirkan proses belajar yang lebih hidup dan relevan bagi anak didiknya.

Melalui pendampingan yang diberikan, Liza dikenalkan pada pembelajaran vokasional membatik sebagai media pengembangan keterampilan siswa. “Saya mendapatkan ilmu baru yang tidak hanya menambah wawasan, tapi juga membuka cara pandang saya dalam mengajar,” tuturnya.

Berbekal pelatihan tersebut, Liza mulai menerapkan pembelajaran membatik secara bertahap dan adaptif. Mulai dari pengenalan motif sederhana, cara memegang canting, hingga proses pewarnaan, semua dilakukan dengan pendekatan yang disesuaikan dengan kemampuan masing-masing siswa. Prosesnya tidak selalu mudah. Pada tahap awal, Liza harus mendampingi secara intens, mengulang instruksi lebih dari sekali, dan bersabar menghadapi ketakutan siswa untuk mencoba.

Namun perlahan, perubahan mulai terlihat. Siswa yang sebelumnya hanya mengamati dari kejauhan mulai berani ikut terlibat. Ada yang awalnya sekadar memegang canting, lalu perlahan mencoba membuat garis sederhana di atas kain. “Dari sekadar memegang canting hingga mampu menyelesaikan karya sederhana, setiap proses menjadi pencapaian yang berarti,” ujarnya dengan senyum bangga.

Transformasi tak hanya terjadi pada siswa, tetapi juga pada Liza sendiri. Dari peran sebagai pengajar, Ia bertransformasi menjadi fasilitator yang lebih adaptif dan kreatif. Ia belajar memahami karakter tiap siswa, menyesuaikan ritme pembelajaran, serta membangun pendekatan yang lebih personal dan empatik.

Kegiatan membatik menghadirkan suasana belajar yang lebih interaktif dan kolaboratif. Di ruang kelas, siswa memiliki kesempatan untuk mencoba, bereksplorasi, dan mengekspresikan diri dengan cara mereka sendiri. Dengan penuh ketulusan, Liza mendampingi setiap proses, bukan hanya mengajarkan teknik, tetapi juga menumbuhkan rasa percaya diri.

“Yang paling mengharukan bagi saya bukan hasil batiknya,” ucap Liza lirih. “Tapi saat mereka mulai percaya bahwa mereka juga bisa. Perubahan itu memang pelan, tapi sangat berarti.”katanya.

Program ini menghadirkan pembelajaran vokasional membatik melalui penyediaan alat dan bahan, pelatihan bagi guru, serta pendampingan dalam penerapan metode berbasis praktik. Lebih dari sekadar peningkatan keterampilan, program ini membuka ruang harapan bagi anak-anak berkebutuhan khusus untuk mengenali dan mengembangkan potensi diri mereka.

Melalui program ini, PT Pertamina Hulu Rokan hadir sebagai mitra yang memperkuat peran perempuan dalam pendidikan sahabat istimewa. Sejalan dengan semangat Hari Kartini yang diperingati setiap 21 April, kisah Liza menjadi potret nyata keberanian seorang perempuan membuka jalan, sekecil apa pun, demi masa depan yang lebih setara, mandiri, dan bermakna bagi generasi yang kerap terpinggirkan.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *