JAKARATA (Wasiat24.com) — NAMA Melva Maria Rosa Pardede menjadi sorotan setelah muncul dalam rangkaian aksi unjuk rasa di depan Gedung DPR RI pada 27 Agustus 2026. Melva kini disebut-sebut tengah dicari oleh sejumlah komunitas ojek online (ojol) di Ibu Kota Jakarta, karena diduga menggunakan atribut ojol untuk ikut menyuarakan tudingan yang dinilai provokatif.
Dalam pernyataannya kepada media, Melva yang mengenakan jaket ojol meluapkan kekecewaannya terhadap massa Aliansi Masyarakat Pati Bersatu (AMPB). Ia secara khusus menuding Koordinator AMPB, Supriyono alias Mas Botok, telah melakukan “kongkalikong” dan menerima uang dari pimpinan DPR RI.
Tudingan tersebut muncul setelah massa AMPB memditinggalkan. Menurutnya, para pengemudi ojol sebelumnyailih membubarkan diri secara tertib dan kembali ke Pati seusai perwakilan mereka diterima untuk melakukan audiensi di dalam Gedung DPR RI.
Melva mengklaim komunitas ojol Jakarta merasa kecewa dan ikut mengawal logistik dalam rangkaian aksi tersebut sehingga keputusan massa AMPB untuk meninggalkan lokasi dinilai tidak menghargai dukungan yang telah diberikan.
Pernyataan Melva kemudian menuai reaksi keras dari sejumlah pihak yang mengaku sebagai bagian dari komunitas ojol. Mereka mempertanyakan identitas dan status Melva sebagai pengemudi ojol.
Perbincangan di media sosial, termasuk platform X, turut memunculkan dugaan bahwa Melva bukan pengemudi ojol aktif. Sejumlah pengguna internet bahkan mengaitkannya dengan latar belakang sebagai mantan aktivis, tim sukses, maupun ibu rumah tangga. Jaket ojol yang dikenakannya kemudian dituding hanya digunakan sebagai atribut untuk menampilkan diri seolah-olah sebagai bagian dari komunitas pengemudi ojol.
Persoalan semakin memanas karena sebagian komunitas ojol merasa nama vvgʻmereka ikut tercoreng. Mereka menilai penggunaan identitas “Ojol Jakarta” dalam menyampaikan tudingan mengenai adanya dugaan suap terhadap massa AMPB, berpotensi menimbulkan persepsi seolah-olah pernyataan tersebut mewakili seluruh pengemudi ojol di Jakarta.
Sejumlah anggota komunitas ojol juga menilai pernyataan tersebut berpotensi memprovokasi situasi yang sebelumnya berlangsung relatif tertib. Mereka menduga munculnya tudingan tersebut dapat memicu ketegangan antara komunitas ojol dengan massa AMPB.
Di sisi lain, keputusan massa AMPB membubarkan diri setelah audiensi disebut sebagai langkah untuk menghindari terjadinya benturan dan menjaga aksi tetap berlangsung secara damai. Karena itu, tudingan adanya “kongkalikong” dan penerimaan uang dari pimpinan DPR RI menjadi polemik tersendiri yang dimunculkan oleh Melva Maria Rosa Pardede.(mk)









