Balerong Silek Tuo Jadi Momentum Kebangkitan Warisan Budaya Minangkabau Ratusan Pesilat Padati Selayo

Kabupaten Solok (Wasiat24.com) – Dengan semangat melestarikan warisan budaya Minangkabau kembali bergema dari Nagari Selayo. Dalam acara ini dihadiri oleh Wakil Gubernur Sumatera Barat, Vasco Ruseimy, S.T, Wakil Bupati Solok H.Candra S.Hi sebagai wali nagari salayo Ronal Regen.

Dihadiri oleh ratusan guru silek, ninik mamak, bundo kanduang, tokoh adat, hingga generasi muda dari Kota dan Kabupaten Solok memadati kawasan depan Kantor Wali Nagari Selayo, Sabtu (25/07/2026), dalam kegiatan Balerong Silek Tuo Kota dan Kabupaten Solok.

Kegiatan yang berlangsung penuh nuansa adat dan persaudaraan itu menjadi ruang silaturahmi sekaligus penegasan komitmen bersama dalam menghidupkan kembali nilai-nilai luhur Silek Tuo sebagai identitas budaya Minangkabau yang sarat akan pendidikan karakter.

Ketua Pelaksana, Yayan Irmanti Tuan Incek Sulaiman, dalam sambutannya menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah berkontribusi menyukseskan penyelenggaraan kegiatan tersebut.

“Atas nama panitia, kami mengucapkan terima kasih kepada seluruh masyarakat Selayo yang telah terlibat langsung dalam menyukseskan acara ini. Terima kasih kepada Bundo Kanduang, Niniak Mamak, guru-guru tuo, seluruh undangan, adiak-adiak, serta dunsanak yang telah meluangkan waktu memenuhi undangan kami. Semoga kegiatan ini dapat berlangsung dengan baik hingga selesai,” ujarnya.

Sementara itu, Wakil Gubernur Sumatera Barat, Vasko Ruseimy, S.T. Sutan Nagari Sati, mengungkapkan rasa bangganya dapat hadir di tengah para pelestari silek tradisi. Menurutnya, Balerong Silek Tuo bukan sekadar pertemuan para pesilat, melainkan momentum penting untuk membangkitkan kembali jati diri budaya Minangkabau.

“Saya sangat bangga bisa hadir di acara kebanggaan kita ini, tempat berkumpulnya urang-urang baju hitam. Dari data yang kami peroleh, Sumatera Barat memiliki sekitar 200 aliran silek tradisi. Namun ketika kami mulai menjabat, hanya sekitar 50 aliran yang masih aktif berkembang,” ungkapnya.

Kondisi tersebut, lanjut Wagub, menjadi perhatian serius Pemerintah Provinsi Sumatera Barat. Berangkat dari keprihatinan itu, pemerintah mengambil langkah strategis dengan mewajibkan kegiatan ekstrakurikuler silek di seluruh SMA dan sederajat di Sumatera Barat.

Menurutnya, salah satu penyebab mulai memudarnya silek tradisi adalah karena generasi muda tidak lagi memandang silek sebagai sesuatu yang menarik maupun membanggakan. Padahal, silek merupakan warisan budaya tak benda yang memiliki nilai sejarah, filosofi, dan karakter yang sangat tinggi.

“Kami ingin menghidupkan kembali nyawa silek di tengah generasi muda. Ketika siswa SMA belajar silek, adik-adiknya tentu akan tertarik mengikuti jejak mereka. Mereka menjadi contoh bagi generasi di bawahnya,” katanya.

Ia juga menegaskan bahwa kebijakan tersebut akan berdampak langsung terhadap keberlangsungan para guru silek di berbagai nagari. Setiap sekolah diwajibkan mencari guru silek di lingkungan masing-masing sesuai dengan aliran yang berkembang di daerah tersebut, baik Taralak, Kumango, Kuncue maupun aliran lainnya.

“Kebijakan ini bukan hanya menghidupkan latihan silek, tetapi juga menghidupkan kembali guru-guru silek yang selama ini menjaga warisan budaya kita,” tambahnya.

Pada kesempatan yang sama, Bupati Solok yang di wakili oleh Wakil Bupati H. Candra, S.H.I menyampaikan apresiasi kepada seluruh guru silek dan tokoh adat yang selama ini konsisten menjaga eksistensi Silek Tuo di Kabupaten Solok.

Ia menilai langkah Pemerintah Provinsi Sumatera Barat mewajibkan ekstrakurikuler silek di tingkat SMA merupakan kebijakan yang sangat strategis dalam membangun karakter generasi muda.

“Atas nama Pemerintah Kabupaten Solok bersama Bapak Bupati, kami mengucapkan terima kasih kepada Dt. Manjinjiang Alam beserta seluruh tuo-tuo silek, ” ujar Wakil Bupati Solok H. Candra.(zon)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *